logo nyiur putih

Nyiur adalah sebuah langkah awal untuk desa ini. Dari Bang Is kita mencoba mengembangkan produk dari kayu agar bisa menemui pasarnya kembali, mungkin tidak hanya dalam ruang lingkup desa tapi juga bisa keluar untuk menemui pasarnya di kota.

Nyiur adalah sebuah langkah awal untuk desa ini. Dari Bang Is kita mencoba mengembangkan produk dari kayu agar bisa menemui pasarnya kembali, mungkin tidak hanya dalam ruang lingkup desa tapi juga bisa keluar untuk menemui pasarnya di kota.

Perjalanan kami dalam melanjutkan Sepatokimin Initiative sampai di salah satu desa di pesisir pantai kota singkawang, tepatnya di desa teluk ma’jantu, Sedau. Yang menghubungkan kami dengan desa ini adalah Bang Is, seorang tukang kayu yang biasa mendapatkan proyek dekorasi untuk acara pameran di kota Singkawang. Bang Is telah berprofesi menjadi tukang kayu selama belasan tahun. Ia biasa membuat tikar adari anyaman kayu dan juga furnitur yang biasa ia buat ketika ada pesanan.

Sebelumnya ia sempat merantau ke Pontianak sebagai buruh pabrik selama puluhan tahun. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya dengan harapan bisa hidup lebih mandiri di desanya. Hidup di kota sebagai buruh dengan gaji tidak seberapa tentu bukanlah pilihan yang ideal walaupun kota menyediakan fasilitas yang lengkap daripada di desa. Kehidupan di desa sebenarnya lebih ideal untuk ditinggali dengan kehidupan yang tidak terlalu terburu-buru, namun kecepatan kehidupan kota nyatanya juga berpengaruh sampai ke pelosok daerah. Dampak buruknya rupanya lebih cepat masuk ke daerah pelosok dibanding kepraktisan yang ditawarkannya. Lihat saja kenaikan harga bahan bakar langsung berdampak ke daerah pelosok daripada peningkatan lapangan pekerjaan ataupun sekedar peningkatan cara berpikir/pendidikan.

Bang Is merupakan warga asli daerah ini, Desa Teluk Ma’jantu, Sedau. Ia memiliki tiga orang anak yang masih mengeyam pendidikan. Istrinya pernah berjualan aksesoris dan makanan ringan di daerah pantai dekat rumahnya, namun akhir-akhir ini istrinya sudah tidak melanjutkan berjualan karena penjualannya tidak bagus. Penjualan produk kayu Bang Is pun mengalami penurunan dalam hal penjualan. Ini mungkin disebabkan karena produk Bang Is kehilangan pasarnya dengan masuknya produk-produk plastik dan produk hasil pabrik yang harganya lebih murah dengan kualitas yang baik pula. Saat ini Bang Is dan istrinya lebih banyak menghabiskan waktunya di industri pengolahan terasi dan ebi yang banyak dijalankan di daerah sekitar desanya. Sedangkan warga desa yang lain banyak yang berprofesi sebagi nelayan.

_
Studio mini Nyiur Indah
_
Bang Is membeli bahan bahku kayu dengan motor
_
Workshop menganyam tikar kayu dengan ibu-ibu warga sekitar
_
Potongan kayu kecil yang dirangkai menjadi tikar dan tatakan
_
Eksperimen pewarnaan kayu dengan pewarna alam
_
Eksperimen bentuk dan motif pada pengembangan produk baru
Previous
Next

Produk kayu Bang Is yang spesial adalah tikar dari potongan kayu-kayu kecil yang dirangkai dengan tali senar. Di waktu lampau produk ini sebenarnya pernah eksis dan banyak diproduksi khususnya oleh orang-orang melayu dari Sumatera hingga Kalimantan. Namun, semakin kesini produk ini seakan kehilangan peminatnya karena nilai jual yang tidak sebanding dengan biaya produksinya yang memakan waktu. Masalah seperti ini sering ditemui pada produk-produk kerajinan tradisional. Mereka biasanya mencoba mengatasi masalah seperti ini dengan menurunkan kualitas dari bahan baku untuk menekan biaya produksi, namun pemecahan masalah seperti ini selalu gagal karena tetap saja produk dengan fungsi yang sama diproduksi dengan harga-harga terlampau murah. Kita juga tidak bisa menyalahkan konsumen karena disatu sisi konsumen dari produk-produk mereka juga berada di segmen menengah kebawah.

Produk kerajinan tradisional itu selalu baik, ia diciptakan dari bahan yang baik dan dilipat gandakan secara wajar, tidak seperti benda plastik yang buruk bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Namun pandangan seperti ini hanya bisa dipahami oleh kita yang sudah bisa melihat dampak dari hal-hal kecil ini. Kita yang tinggal di kota-kota besar juga kadang tidak sadar bahwa banyak kemudahan yang kita terima secara gratis sebenarnya adalah hasil dari penyerapan dari energi-energi di daerah luar yang tertinggal. Kita secara tidak sadar mengambil alamnya tetapi meninggalkan manusianya.

Teluk Ma’jantu juga menyimpan potensi wisata alam yang indah yaitu pantai Batuburung. Banyak wisatawan dari kota Singkawang yang berkunjung ke sini. Ada peluang untuk pengelolaan yang lebih. Kami berharap kedepannya pantai ini juga bisa dikelola secara mandiri oleh warga sekitar agar menjadi lahan penghidupan yang layak bagi mereka. Saat ini kami juga sudah menghubungi kelompok muda-mudi Teluk Ma’jantung untuk bersama-sama mencoba menggerakkan desa kea rah yang lebih baik lewat potensi-potensi yang ada. Semoga kedepannya kami bisa melanjutkan gerakan ini hingga adanya peningkatan ekonomi untuk warga sekitar.

Products & Collaborations

Nyiur designs and produces a wide range of crafts from local resources.

Merchandise


Support the program of Nyiur Teluk Ma'jantu by buying their products! Each transaction gives the community a chance to learn how to run a business, from managing a supply chain, producing the craft to marketing the finished product.

Product Collaboration


Make the impossible possible through collaboration! We welcome any fresh collaboration idea. We can work together to make our dreams come true while promoting social awareness for our assisted youth community in Sagatani Village.

Let’s make it happen!